Transmigrasi dan itikad pemerataan pembangunan

Peneyelenggaraan transmigrasi membawa sejumlah hasil. Ia membentuk masyarakat yang mandiri dan tangguh.

Kawasan Transmigrasi di Desa Sungai Aur Muaro Jambi/ Retno Ningsih

Saat sekolah dulu, pengertian Transmigrasi sejauh yang kita tahu adalah perpindahan penduduk dari suatu pulau ke pulau lainnya. Tidak ada yang salah dengan itu. Transmigrasi, lebih tepatnya, merupakan perpindahan penduduk dari pulau/ wilayah yang kepadatannya tinggi ke pulau/ wilayah kepadatan rendah dalam rangka pemerataan pembangunan. Lalu bagaimana perkembangannya sekarang?

Transmigrasi jaman “old

Di Indonesia, program transmigrasi pertama kali dilaksanakan pada era kolonialisme Belanda, yaitu tahun 1905. Transmigrasi di era itu dikenal dengan istilah “kolonisasi”.

Kondisi Pulau Jawa yang semakin padat dan menurunnya kesejahteraan penduduk pedesaan, membuat Pemerintah Belanda memberlakukan kebijakan untuk memindahkan petani-petani Pulau Jawa ke Sumatra. Di baliknya, kolonisasi juga dilakukan Belanda untuk mendapat tenaga buruh murah yang akan menggarap lahan-lahan perkebunan mereka di luar Jawa.

Para Kolonisten –sebutan untuk para transmigran- dari Jawa Tengah dipindahkan ke Lampung, dibekali sejumlah lahan garapan. Pemerintah Belanda juga memberikan bantuan untuk pertanian, membangun rumah, uang sebesar 20 gulden untuk masing-masing KK agar mereka betah. Dengan “kompensasi” itu, kolonisten tidak hanya menggarap lahan miliknya sendiri tetapi juga milik Pemerintah Belanda.

Pemilihan Lampung sebagai tujuan transmigrasi tidak lain agar mereka tidak bisa kembali lagi ke Jawa seandainya aktivitas pertaniannya gagal. Untuk menuju ke Lampung pada waktu itu, kolonisten harus menyeberangi lautan dan menempuh medan yang terjal.

Setelah mengirim petani, pemerintah Belanda selanjutnya mengirim tenaga pendidik, tenaga medis dan tenaga penting lainnya ke wilayah transmigrasi. Para Kolonisten yang memang berasal dari Jawa kemudian membangun kawasan tersebut menggunakan sistem pertanian di Jawa. Banyaknya nama-nama kecamatan atau kota di Lampung yang menggunakan nama Jawa merupakan warisan dari situasi tersebut.

Setelah Indonesia merdeka, Presiden Sukarno mempopulerkan nama kolonisasi ini dengan nama transmigrasi. Transmigrasi menjadi agenda pembangunan Indonesia dengan tujuan pemerataan pembangunan di luar Jawa. Pada tanggal 12 Desember 1950, dilakukanlah transmigrasi pertama di era orde lama, yang kemudian dijadikan hari bakti transmigrasi di Indonesia.

Transmigrasi jaman “now

Jika dulu transmigrasi merupakan program yang sudah ditentukan dari pusat (desentralisasi), maka pada era otonomi daerah, penetapan kawasan transmigrasi oleh pemerintah pusat disandarkan pada usulan daerah.

Oleh karenanya, transmigrasi jaman “nowdapat diartikan sebagai kegiatan perpindahan penduduk secara sukarela untuk meningkatkan kesejahteraan dan menetap di kawasan transmigrasi yang diselenggarakan oleh Pemerintah.

Terminologi “sukarela” menjadi prinsip paling kuat yang membedakan pendekatan transmigrasi sebelum-sebelumnya, yang terkesan sebagai bentuk paksaan. Para transmigran yang berminat pun akan mendapat bantuan tempat tinggal, lahan pertanian, serta jatah hidup.

Hingga kini, penyelenggaraan transmigrasi telah membawa sejumlah hasil, baik bagi transmigran dan juga pengembangan kawasan. Program ini membentuk pesertanya menjadi masyarakat mandiri dan tangguh.

Bayangkan, mereka yang biasanya hidup di kawasan serba ada kemudian hijrah ke wilayah “antah berantah”, yang tetangganya pun bisa dihitung dengan jari. Culture shock? Mungkin saja. Namun begitu, dengan keterbatasan tersebut akhirnya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara kreatif dan inovatif.

Dalam hal pengembangan kawasan, transmigrasi telah mendorong pembangunan kurang lebih 68.000 km jalan poros penghubung dan jalan desa. Program ini juga ikut mendorong Indonesa menuju swasembada pangan. Di bidang pertanian, telah dibuka sekitar 390.000 ha lahan untuk dijadikan perkebunan dan sekitar 8.000.000 ha perluasan lahan pertanian.

Pembangunan kawasan transmigrasi juga membidani lahirnya 2 ibukota provinsi baru di Indonesia, yaitu Mamuju (Provinsi Sulawesi Barat) dan Bulungan (Provinsi Kalimantan Utara). Ini dapat dikatakan sebagai capaian terbesar program transmigrasi.

Transmigrasi telah membantu wilayah-wilayah di Indonesia menjadi lebih maju dan lebih baik. Proses perkembangan kawasan transmigrasi telah menjadi contoh bahwa Indonesia memiliki cara unik dalam mengembangkan kawasan dengan cara bottom up dan top down secara bersama-sama. Ini menjadi bukti bahwa sinergi masyarakat dan pemerintah telah menuai hasil yang baik.

Pemerintah pun telah menggandeng semakin banyak pihak untuk turut serta membangun dan memajukan kawasan transmigrasi. Salah satu contoh kerjasama yang telah dilaksanakan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi dengan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, yaitu memberikan beasiswa kepada anak-anak transmigran untuk memperoleh pendidikan di jenjang perguruan tinggi.

Ayo, siapa berminat jadi transmigran?

Beri tanggapan