Pilpres 2019: menelusuri arah pembangunan kota-kota di Indonesia

Pilpres mestinya juga dijadikan momen untuk mempertanyakan apa saja program masing-masing pasangan calon (paslon) terkait pembangunan perkotaan di Indonesia?

Bird's eye view of people group/ San Fermin - Pexels

Adu gagasan menjelang pemilihan presiden (pilpres) tahun 2019 semakin memanas. Meski pertarungan seringkali menaruh perhatian pada tema-tema besar seperti ekonomi, hukum, dan ideologi, pilpres mestinya juga dijadikan momen untuk mempertanyakan apa saja program masing-masing pasangan calon (paslon) terkait pembangunan perkotaan di Indonesia?

Saya mencoba menelusurinya melalui dokumen visi-misi tiap paslon. Untuk memudahkan penelusuran, saya menggunakan beberapa kata kunci yang sekiranya dekat dengan isu perkotaan, antara lain: kota, infrastruktur, konektivitas, transportasi, rumah, dan ruang.

Berikut hasil telusur visi-misi Paslon 01 Joko Widodo – Ma’ruf Amin dan Paslon 02 Prabowo Subianto – Sandiaga Uno:

Infrastruktur dan konektivitas

Secara umum, tiap paslon memiliki perhatian yang sama terkait percepatan infrastruktur dasar, seperti air bersih, sanitasi, dan energi.

Hanya paslon 01 yang secara eksplisit memunculkan strategi penyediaan infrastruktur pengolahan limbah/ sampah di perkotaan. Paslon ini pun nampak memiliki perhatian khusus terhadap perbaikan sanitasi, dengan menguraikan “agar tiap rumah tangga memiliki jamban untuk meningkatkan kualitas hidup sehat”.

Sementara itu, paslon 02 menyinggung pentingnya pemeliharaan fasilitas publik yang akan mereka lakukan dengan meningkatkan porsi dana transfer ke daerah.

Terkait konektivitas, fokus utama paslon 01 adalah pemanfaatan infrastruktur untuk mengintegrasikan pengembangan sektor ekonomi unggulan daerah. Paslon 02 menaruh perhatian pada konektivitas pulau-pulau kecil dan kota-kota pantai.

Setiap paslon terlihat memiliki program terkait infrastruktur digital untuk membangun ekonomi kota. Namun begitu, hanya paslon 02 yang menyinggung akan “meningkatkan keamanan teknologi informasi dan telekomunikasi dari ancaman cyber attack”.

Transportasi publik

Meskipun sama-sama memiliki perhatian terhadap transportasi publik, tiap paslon memiliki strategi dan pendekatan yang berbeda.

Paslon 01 hendak mengembangkan sistem angkutan umum yang terintegrasi antar permukiman, desa, kota, dan provinsi. Paslon ini juga menyatakan komitmennya untuk menyediakan moda umum yang peka terhadap kelompok difabel, serta mengurangi emisi karbon melalui sarana transportasi yang ramah lingkungan.

Sementara itu, paslon 02 secara eksplisit hendak memberi kepastian hukum bagi kendaraan roda dua sebagai moda transportasi umum. Paslon ini juga akan mendorong pembangunan armada transportasi yang melayani pulau-pulau terpencil dan terluar.

Tiap paslon mendorong pengembangan transportasi online. Namun hanya paslon 02 yang menguraikan lebih lanjut dengan akan “menjamin hak berserikat bagi pengemudi ojek online dan taksi online yang bermitra dengan perusahaan aplikasi”.

Penyediaan rumah murah

Masing-masing paslon memiliki perhatian terhadap akses masyarakat miskin terhadap hunian terjangkau. Paslon 01 menargetkan penyediaan hunian dan bedah rumah bagi 5 juta msyarkat berpenghasilan rendah (MBR), buruh, ASN, prajurit  TNI, dan anggota Polri.

Sementara paslon 02 akan menggunakan instrumen cadangan lahan (land banking) sebagai strategi penyediaan perumahan/ rumah susun bagi mereka yang belum memiliki tempat tinggal. Paslon ini pun berencana “menghapus pajak bumi dan bangunan (PBB) bagi rumah tinggal utama dan pertama untuk meringankan beban hidup”.

Penataan ruang

Paslon 01 secara eksplisit menawarkan kebijakan “satu peta” untuk menghindari tumpang tindih penggunaan ruang. Tiap paslon tampak memiliki kehendak untuk merekayasa struktur ruang dengan membangun simpul-simpul ekonomi baru (perkotaan) guna mengatasi ketimpangan wilayah. Paslon 02 mengelaborasinya pada pusat pertumbuhan berbasis pulau kecil dan kota-kota pantai.

Ruang publik dan ruang kreatif

Paslon 01 akan memperbanyak hutan kota dan ruang terbuka hijau, serta ruang-ruang kreasi bagi pemuda, antara lain di bidang kuliner, musik, fashion, travel, seni, dan science-robotik. Sementara itu, paslon 02 akan membangun lebih banyak ruang pameran dan pertunjukkan seni, serta perpustakaan dan taman-taman bacaan untuk mendorong gerakan literasi masyarakat.

Jadi, mana yang paling baik?

Hasil penelusuran di atas sengaja tidak dianalisis untuk menilai mana kandidat yang memiliki gagasan paling cemerlang terkait isu perkotaan. Tulisan ini diharapkan dapat membantu para pemilih mengenal isi kepala masing-masing paslon yang bertarung pada pilpres 2019, di tengah media arus utama seringkali memberi panggung bagi perdebatan yang tidak substantif

Siapa pun yang terpilih, mereka harus memosisikan warga, tanpa diskriminasi, sebagai subyek yang dilibatkan dalam pembangunan kota. Sebab, kota adalah manusianya!

Beri tanggapan