Siapa peduli angkutan “angkot” kota

Angkot - Flickr/ Ikhlasul Amal

Namanya Jan dan dia berasal dari Jerman. Saya berjumpa dengannya di pinggir Jalan Palagan Tentara Pelajar, Yogyakarta, di bawah pohon perindang.

Saya berjumpa dengannya dua kali, dua hari berturut-turut, di bawah pohon yang sama.

Perjumpaan pertama kami cukup unik. Saya, yang kala itu, sedang mengendarai sepeda motor, tiba-tiba dikejutkan oleh unjukkan jempol dari seseorang yang berada di pinggir jalan. Dari gesturnya seolah berkata ‘tolong-tebengin-saya’.

Dialah Jan, seorang bule Jerman, yang hendak menuju terminal Trans Jogja terdekat. Ia mengaku sudah menunggu angkot –angkutan kota- lama sekali, lebih dari dua jam.

Kalau waktu itu saya tak mengantarnya, ia akan kehilangan satu hari berharganya untuk menikmati liburan di Jogja.

Sesampainya di halte Trans Jogja, saya memberinya nomor whatsapp. Barangkali dia tertarik nebeng lagi, setelah saya tahu dia akan pergi ke Stasiun Lempuyangan keesokan harinya.

Pagi berikutnya, tidak ada kontak.

“Mungkin Jan sudah dapat tebengan lain atau menyewa motor di rental. Atau, jika sangat beruntung, ia sudah mendapat angkot Jalur 23 yang memang beroperasi di sepanjang jalan itu”, pikirku.

Namun alangkah terkejutnya ketika saya melintas di jalan yang sama, saya melihat lagi Jan. Ia menunggu di bawah pohon yang sama. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Dia, tengah menunggu angkot!

Rupanya, dia enggan mengontak saya karena dia bangun kesiangan. Dia pikir, saya akan berangkat pagi. Padahal, kalau dia tahu, saya termasuk yang kesulitan bangun pagi.

Jan yang malang. Ia menunggu angkot ibarat mencari jarum di tumpukan jerami.

Sejak insiden itu, saya bertanya-tanya, benarkah masih ada yang menanti angkot, selain mereka yang baru menapaki Yogyakarta seperti halnya Jan?

Rupanya hampir selalu ada meski hanya beberapa.

Kebanyakan adalah wanita paruh baya dengan tujuan pergi/pulang pasar. Akan tetapi, saya belum bisa memahami mengapa mereka masih menunggu angkot, dan bersedia kehilangan paling tidak satu-dua jam dalam hidupnya?

Selayang Pandang Transportasi Umum di Kabupaten Sleman

Angkot di Sleman sebenarnya lebih cocok disebut sebagai angkudes, angkutan pedesaan. Di sini, angkot biasa dijuluki sebagai kol –barangkali merujuk pada Colt milik Mitsubishi- atau kol tuyul karena ukurannya yang kecil namun gesit.

Angkot pernah berjaya sebagai tumpuan transportasi warga seantero Sleman, hingga pertengahan tahun 2000-an.

Di masa lalu, terdapat sejumlah trayek angkot yang terkenal karena kesibukannya seperti Jalur 23 (Pakem – Pasar Kranggan), Jalur 30 ( Pakem – Tempel), dan Jalur D-6 (Godean-Minomartani).

Angkot selalu penuh penumpang saat jam sibuk antara pukul 6-7 pagi dan pukul 1-3 sore. Ia menjadi primadona tidak hanya bagi mereka yang pulang/pergi ke pasar, tetapi juga para pelajar.

Penumpang yang berurusan dengan pasar seringkali diuntungkan karena tidak dikenai ongkos tambahan untuk mengangkut barang bawaannya sepanjang tidak diletakkan di bagian atas kendaraan.

Sementara itu, bagi pelajar, angkot menjadi moda favorit karena seragam mereka ampuh membuat tarifnya turun setengah harga. Itu pun bisa semakin turun kalau mereka bergelantungan di pintu angkot saat kendaraan sudah dipenuhi karung-karung belanjaan pasar.

Mengapa Kejayaan Angkot Memudar?

Beberapa trayek angkot di Sleman memiliki jarak yang cukup panjang. Contohnya, trayek angkot Jalur 23 (sekitar 18-20km) atau trayek Jalur D-6 (sekitar 21-23km).

Mereka tidak memiliki trayek-trayek alternatif untuk melayani penumpang jarak dekat di sepanjang rute tersebut. Akibatnya, penumpang harus menunggu kedatangannya lebih lama karena angkot harus menyelesaikan trayek terakhirnya.

Waktu tunggu yang lama diperparah dengan ukuran angkot yang hanya mampu mengangkut sedikit penumpang. Orang-orang yang sudah lama menunggu, seringkali mendapat penolakan karena angkot sudah penuh.

Dari sisi kesejahteraan, para sopir angkot yang beroperasi di wilayah Kabupaten Sleman mendapat upah dengan mekanisme setoran. Kebanyakan sopir tidak memiliki kendaraannya sendiri sehingga mereka harus berbagi penghasilan dengan si empunya angkot.

Itu pun belum menghitung pungutan, baik legal maupun ilegal, di sepanjang rute yang ia lewati. Kondisi ini memaksa sopir untuk memaksimalkan jumlah penumpang.

Di jam-jam sibuk, mereka mengambil resiko untuk membawa penumpang melebihi kapasitas kendaraan. Sementara di jam-jam sepi, angkot cenderung berhenti 15-30 menit, ngetem di suatu titik hingga kendaraannya penuh penumpang. Ini sulit diterima bagi mereka yang terburu-buru.

Selanjutnya, jam pelayanan angkot pun cenderung sulit ditebak. Menjelang pukul lima sore, angkot berangsur-angsur menarik diri dari jalanan. Penyebabnya adalah setelah waktu tersebut, penumpang akan berkurang secara drastis. Ini akan membuat mereka rugi bila terus beroperasi.

Angkot yang gagal memberikan keamanan, kenyamanan, dan reliabilitas bagi penumpangnya sangat beresiko kehilangan pelanggan. Imbasnya sebenarnya kembali pada penurunan penghasilan sopir. Jika angkot tak lagi menguntungkan, populasinya pun otomatis berkurang.

Perlukah Angkot Berbenah?

Bagi penumpang yang memiliki pilihan lain, misalnya mereka mampu menyicil motor matic dengan DP ringan, bisa jadi tak menganggap ini sebuah masalah.

Akan tetapi, saya ingin mengajak pembaca untuk melihat lagi wajah jalanan Kabupaten Sleman yang semakin disesaki kendaraan pribadi. Tidak hanya oleh mereka yang melintas, kini, kita semakin bisa menemui berbagai macam kendaraan terparkir di bahu kanan-kiri jalan.

Para pendatang bisa jadi merupakan kontributor terbesar terhadap kepadatan lalu lintas di Yogyakarta, termasuk Sleman. Namun hal itu mungkin saja karena mereka tak memiliki pilihan moda publik yang nyaman.

Beberapa kawan saya yang berasal dari luar Yogyakarta pernah bereksperimen menggunakan bus untuk pergi dan pulang kuliah. Hasilnya, mereka menyerah.

Sudah saatnya angkot –lebih luas lagi- sistem transportasi umum di Kabupaten Sleman dibenahi. Bukan hanya untuk memberi jawaban bagi mereka yang tak punya pilihan berkendara, tetapi juga untuk menyelamatkan wilayah ini dari kemacetan parah.

Pemerintah daerah rasanya perlu memikirkan kemungkinan mengambil kendali pengelolaan angkutan umum. Ini untuk memberi jaminan terhadap jam pelayanan, penghasilan pekerja, subsidi dan biaya operasional. Dengan intervensi pemerintah, segala bentuk praktik pungutan liar pun dapat dihapuskan.

Pengaturan ulang trayek angkutan umum juga perlu dilakukan. Seluruh wilayah Kabupaten Sleman harus dilalui paling tidak oleh satu trayek. Trayek jarak dekat diatur agar tidak terlalu lama mengitari rutenya sedangkan trayek jarak jauh tidak terlalu sering berhenti untuk menaik-turunkan penumpang.

Dengan tuntutan tersebut, spesifikasi desain angkutan umum perlu dibedakan. Angkot dapat digunakan sebagai moda transportasi pada trayek jarak dekat sedangkan bus berukuran besar dapat digunakan untuk melayani trayek jarak jauh. Kombinasi trayek jarak dekat dan jauh dapat menggunakan bus sedang, bergantung dari beban penumpang pada trayek tersebut.

Beri tanggapan