Mereka yang bersemayam di landasan pacu Bandara Internasional Baru Yogyakarta (NYIA)

Silhouette of person in airport/ silhouette-of-person-in-airport/ Skitterphoto - Pexels

Belakangan, beredar sejumlah foto dan video yang merekam kemajuan pembangunan Bandara Internasional Baru Yogyakarta (New Yogyakarta International Airport/ NYIA).

Bandara raksasa yang berlokasi di Kulon Progo itu memang dijadwalkan beroperasi pada 29 April mendatang. Total kapasitasnya diproyeksi mampu menampung 14 juta penumpang tiap tahun.

Bagi saya, menulis tentang NYIA bukanlah perkara mudah. Terlalu banyak hal yang bisa (dan perlu) saya sampaikan, terlalu banyak perasaan yang terlibat.

Dibalik gagahnya NYIA, pernah ada kehidupan-kehidupan sederhana yang bersemayam di bawah reruntuhan puing. Mereka berjuang dalam keseharian. Ingatan saya pun kembali pada rangkaian cerita mengenai konflik, ekseskusi, dan hal-hal emosional lainnya.

Pak Arep dan keluarganya

Tujuh Desember 2017, saya berkenalan dengan Pak Arep (nama samaran) untuk pertama kalinya. Keluarga Pak Arep adalah keluarga biasa-biasa saja. Sederhana, ‘ndeso’ ala Kulon Progo.

Istri Pak Arep sedang hamil tujuh bulan anak ketiga mereka. Bulan Maret tahun depan, ia dijadwalkan melahirkan dengan operasi sesar.

Dua anaknya, Pedhang dan Roh (keduanya nama samaran), kini duduk di kelas tiga dan kelas satu sekolah dasar. Pedhang cenderung pemalu dan Roh yang ketua geng di sekolahnya. Mereka sebenarnya memiliki saudara perempuan namun meninggal saat dalam kandungan, dikubur tak jauh dari tempat tinggal mereka.

Keluarga Pak Arep tinggal di rumah sederhana dengan dinding berplester semen. Bangunan tersebut berusia dua tahun dengan tiga kamar di dalamnya.

Halaman belakang rumah Pak Arep dipakai untuk tempat pemotongan ayam. Berjualan ayam potong di pasar adalah pekerjaan sehari-harinya.

Pak Arep dan keluarganya adalah satu dari 37 KK yang saat itu masih bertahan untuk tidak menjual tanahnya.

Di halaman belakang rumah, beliau bercerita. Katanya, ia selalu santai menanggapi berbagai macam usaha yang memengaruhinya agar berubah pikiran dan menyerahkan tanahnya kepada PT Angkasa Pura.

Saya menyaksikan sendiri. Mungkin dalam satu jam saya ikut duduk-duduk bersama Pak Arep, tiga kali ia ditelepon. Ketiganya memiliki kesan yang sama: penelpon bernada memaksa sementara Pak Arep memberi jawaban berputar.

“Ya, nanti ya bu. Saya mau berdoa dulu minta jawaban dari Allah.”, katanya sambil senyum-senyum merespon percakapan di telepon genggam.

Keseharian adalah perlawanan

Kehidupan Keluarga Pak Arep dimulai tiap pukul dua dini hari untuk memotong ayam. Istrinya memanaskan air dengan kayu bakar untuk mencabuti bulu-bulu ayam.

“Iya, itu tembok jadi hitam-hitam kan kena jelaga dari masak air kalau pagi…”, kata Pak Arep.

Sekitar pukul enam pagi, Pedhang dan Roh bergantian mandi. Meski sedang hamil tua, Ibu Arep-lah yang mengantarkan kedua anak laki-lakinya itu ke sekolah menggunakan sepeda motor; dan menjemputnya sekitar jam sebelas dan satu siang.

Sepulang itu, Ibu Arep mulai memasak untuk makan siang dan malam. Saya sempat mencicipi sayur tahu buatannya yang membuat saya rindu kampung halaman.

Mereka baru bisa menonton televisi pada malam hari sebab genset komunal baru dinyalakan. Ya, listrik sudah dicabut dari kehidupan mereka.

Sesi televisi malam adalah ruang interaksi bagi orang tua dan anak. Listrik seadanya tak membuat mereka sepi dari “rebutan” saluran sinetron atau kompetisi dangdut se-Asia.

Saat sang anak tertidur, si Ibu membersihkan kaki dan memotong kuku mereka.  “Mereka tidak pernah mau dipotong kukunya kalau sedang terjaga”, kata Bu Arep.

Dini hari datang lagi, dan aktivitas-aktivitas itu akan berulang.

Bagi kita, menyaksikan keseharian keluarga Pak Arep mungkin adalah perihal biasa saja dan tidak penting. Hal-hal yang sebenarnya dilakukan oleh semua orang setiap hari: kehidupan sebuah keluarga, seorang bapak, ibu, dan anak-anaknya.

Namun dalam sehari saya mengikuti ritme keluarga itu, saya menemukan perlawanan-perlawanan yang sesungguhnya. Aktivitas sehari-hari adalah bentuk perlawanan warga dalam mempertahankan eksistensi dan ruang hidupnya.

Mereka menolak berbagai bentuk narasi hegemoni dan represi dari ketidakhadiran negara, listrik yang dicerabut, akses jalan yang sengaja ditutup, hingga para aktivis yang ditangkap.

Penggusuran tentu bukanlah paragraf yang manis untuk diselipkan pada narasi gagahnya proyek NYIA.

Berapa harga yang layak untuk sebuah kehidupan yang hilang?

Kehidupan sederhana keluarga Pak Arep -dan para tetangganya- mungkin (telah atau) akan hilang sebentar lagi. Ia ikut menguap bersama teriknya Kulon Progo menjadi memori yang terkubur di bawah restoran-restoran internasional siap saji atau dilindas kapal terbang setiap hari.

Lalu, berapa harga yang perlu dibayar untuk mengganti sebuah kehidupan? Sistem pertukaran manapun tentu tak akan pernah mampu mengganti nilai kehidupan.

Jawabannya: keikhlasan. Keikhlasan yang tidak saya temukan di 37 rumah yang menolak menjual tanahnya tanpa syarat. Ketiadaan itu, menyiratkan ada proses yang keliru, tidak adil, dan ditumbalkan.

Apakah kita akan terus menerus melihat pembangunan sebagai sebuah produk belaka, bukan sebuah proses? Tanpa proses yang adil, kita hanya sedang mereduksi nilai-nilai pembangunan itu sendiri.

Bandara hanya akan dilihat sebagai sekadar bandara. Ia tidak dilihat sebagai ruang yang berubah, orang-orang yang “disingkirkan, hasil tanam yang “ditimbun” bagi komoditas pariwisata.

Ia tidak akan dilihat sebagai Bu Arep yang akan kesulitan beradaptasi di tempat baru, Pak Arep yang akan membangun kembali penghidupan ekonominya, Pedhang dan Roh yang kehilangan teman-teman sepermainannya.

Ada harga-harga yang tidak mampu dihitung dan diganti: kehidupan sehari-hari yang hilang.  

“Kalau bandara ini beneran jadi, kayaknya aku nggak akan mau pakai”, kata seorang teman.

“Aku mungkin akan tetep pake, sih. Tapi dengan perasaan bersalah…”

1 komentar

Beri tanggapan