Berbenah kota dengan seni KonMari

“Where Things Are, From Near to Far,” a book on urban planning for children/ nytimes.com, David Ryan

Buku yang aneh. Awalnya saya menyesal telah merogoh kocek sampai sehasta untuk membelinya. Hal yang diulas hanya menyoal seni beres-beres rumah ala Negeri Matahari Terbit. Tapi uniknya, ia justru populer dan sering didapuk sebagai konsultan benah rumah oleh mereka yang telah membaca bukunya.

Rasanya, tak lazim mengategorikan berbenah sebagai bagian dari seni. Namun Marie Kondo melalui karyanya, “The Life-Changing Magic of Tidying Up”, mengungkapkan bahwa berbenah tidak hanya identik dengan estetika. Ia juga merupakan seni menata fungsi yang mampu meningkatkan kebahagiaan. KonMari, begitu julukan yang ia canangkan.

Berbenah ala KonMari setidaknya memiliki tiga prinsip penting, yaitu (1) Penetapan tujuan, (2) Pengategorian, dan (3) Penyortiran. Ketiga prinsip tersebut bersifat komplementer dan saya kira cukup relevan untuk diadopsi dalam konteks penataan kota dan wilayah. Tidak percaya?

Visualisasikan tujuan dalam menata ruang

Menetapkan tujuan melalui definisi dan indikator tertentu menjadi hal pertama yang perlu diperhartikan. Dinyatakan Kondo, hal ini menuntut kita berimajinasi secara gamblang tentang ketertataan seperti apa yang dapat membuat kita semakin bahagia. Oleh karenanya, ia merupakan patokan-patokan yang terukur berdasarkan sejumlah pertimbangan.

Kondo, saat menjadi konsultan interior, pernah mendapat klien berusia 20-an dan mendambakan kehidupan bernuansa ‘feminin’. Menurutnya, sang klien perlu mendefinisikan seleranya itu. Kemudian sang klien memvisualisasikan ‘feminin’ dengan patokan-patokan terukur sebagai berikut:

“Pokoknya, sewaktu saya pulang kerja, tidak ada yang berserakan di lantai. Apartemen serapi kamar hotel, tidak terhalangi tumpukan barang di sana sini. Saya menginginkan pelapis tetmpat tidur merah muda dan lampu putih bergaya antik. Sebelum tidur, saya ingin mandi berendam, menikmati keharuman minyak aromaterapi, dan mendengarkan musik instrumentalia piano atau biola klasik sambil berlatih yoga dan minum teh herbal. Saya lantas bisa tertidur dengan perasaan damai dan lega.”

Pada konteks kota, perencana mungkin familiar dengan bahasa visi pembangunan atau penataan ruang. Apakah itu sudah didefinisikan dengan baik dan memiliki patokan? Ambillah kasus RKPD Kota Yogyakarta Tahun 2018, dengan visi “Meningkatkan Pelayanan Publik yang Berkualitas menuju Kota Yogyakarta yang Mandiri dan Sejahtera berlandaskan Segoro Amarto (Semangat Gotong Royong Agawe Majune Ngayogyakarto)”.

Terlepas dari siapa yang merumuskan, sudahkah visi itu didefinisikan dan memiliki indikator? Apakah indikator sosial budaya seperti penertiban pengembangan teknologi informasi pariwisata; atau indikator ekonomi seperti target Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp.528,07M dan pendapatan perkapita Rp.70 juta, mampu yang menjamin kebahagiaan warganya?

Klasifikasi mana yang ingin dikembangkan atau digantikan

Setelah memiliki tujuan yang jelas, prinsip berikutnya adalah lakukan klasifikasi untuk menentukan mana yang sebaiknya disimpan atau justru dibuang. Salah satu penyebab di balik kegagalan mempertahankan kerapian adalah terlampau banyaknya barang yang kita miliki. Maka, kelompokkan seluruh barang pada kategori yang ingin ditata, pertimbangkan kembali apakah hadirnya barang tersebut masih digunakan dan membuat kita senang? Jika tidak, tak ada salahnya untuk membuang dengan membereskannya sesuai kategori pula.

Dalam konteks kota, prinsip ini dapat diilustrasikan dari penggolongan sarana prasarana sebagaimana SNI 03-1733 tahun 2004, yaitu (1) kawasan pemerintahan dan perkantoran, (2) kawasan pendidikan, (3) kawasan kesehatan, (4) kawasan peribadatan, (5) kawasan perdagangan, (6) kawasan cagar budaya, (7) kawasan perumahan girli (pingir kali), (8) kawasan ruang terbuka, dan (9) kawasan perumahan. Apa yang hendak dibenahi, mulailah dengan analisis mana yang ingin dipertahankan fungsinya, dikembangkan, atau digantikan untuk mencapai tujuan kebahagiaan?

Urutkan berdasarkan nilai secara menyeluruh

Masuk ke bagian yang paling saya suka, prinsip ketiga KonMari menekankan bahwa seni berbenah harus dilakukan sesuai dengan urut-urutan sesuai nilai barang dan dilakukan menyeluruh. Ini mempertimbangkan nilai fungsionalitas (kerap digunakan), nilai informasi, dan nilai sentimental (nilai emosional).

Dalam perencanaan kota, penyortiran nilai fungsionalitas dapat diilustrasikan pada penataan struktur ruang. Titik mana yang ditetapkan sebagai pusat wilayah dan mana sebagai simpul kegiatan yang lebih kecil. Dari tatanan yang demikian, adakah informasi atau pesan yang hendak disampaikan? Bila ruang hendak memberi pengalaman tertentu maka rancangan perlu mengikutsertakan ‘rasa’, seperti sentuhan kultur dan budaya.

Dewasa ini, pendayagunaan kawasan bersejarah acapkali terabaikan. Bangunan cagar budaya misalnya, seringkali hanya dianggap sebagai gedung antik yang angker, ditambah kondisinya kurang terawat. Di Australia, AJ+ C Architects dari Australia memiliki misi penyelamatan bangunan cagar budaya. Ia menambahkan berbagai ornamen semi permanen dan tata pencahayaan pada bangunan bersejarah untuk menonjolkan unsur historis tinggi. Sejarah ada bukan untuk terkesan angkuh, tapi untuk mengajak orang menyelami pembelajaran di dalamnya.

1 komentar

Beri tanggapan