Pemadaman listrik dan gulitanya kelompok rentan

Pemadaman listrik membuat ketahanan warga kota terguncang. Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan. Hal yang bisa dilakukan adalah mempersiapkannya.

Blackout illustration - Pexels/Lennart Wittstock
Blackout illustration - Pexels/Lennart Wittstock

Pemadaman listrik yang terjadi pada Minggu, 4 Agustus 2019 lalu membuat ketahanan warga kota terguncang. Perisitiwa ini terjadi di wilayah Jabodetabek, sebagian Jawa Barat dan Banten hingga Jawa Tengah, berdampak pada puluhan juta penduduk.

Di wilayah Jakarta, pengguna KRL dan MRT terpaksa dievekuasi. Begitu pula mereka yang memakai kendaraan pribadi, harus extra hati-hati karena lampu lalu lintas tidak berfungsi.

Namun tahukah Anda, kegagalan listrik tersebut juga berdampak pada mereka yang sedang berada di rumah, terutama warga rentan?

Ibu menyusui yang terdampak

Salah satu penerima kerugian terbesar dari pemadaman listrik adalah  para ibu menyusui yang menyimpan cadangan Air Susu Ibu Perah (ASIP).

Kualitas ASIP dapat bertahan dengan baik selama 3-6 bulan jika disimpan dalam freezer, dan 5 hari jika disimpan di dalam kulkas biasa.

Dalam kondisi mati listrik, ASIP yang disimpan dalam freezer masih bisa bertahan (dalam kondisi beku) hingga 24-48 jam, sedangkan jika disimpan dalam kulkas biasa hanya bisa bertahan sampai 4 jam saja.

Setelah mencair, ASIP hanya aman dikonsumsi dalam waktu 4 jam saja dalam kondisi suhu ruangan dan tidak bisa dibekukan kembali untuk disimpan dikemudian hari. Pemadaman listrik yang berlangsung selama 6-15 jam kemarin membuat ASIP yang disimpan terancam basi.

Kerugian soal ASIP bukan hanya terletak pada stok yang terbuang. ASI merupakan asupan terbaik bagi bayi hingga usia 2 tahun, termasuk untuk mencegah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi atau yang dikenal dengan istilah stunting.

Disabilitas dan lansia juga terdampak

Merujuk pada penelitian Dominianni (2018) yang dilakukan di New York, kesiapan masyarakat saat terjadi pemadaman listrik dapat diukur melalui beberapa faktor, antara lain (1) memiliki persediaan air bersih untuk diminum untuk tiga hari ke depan, (2) mempunyai makanan awet yang bisa dikonsumsi segera, dan (3) menyediakan lampu emergency.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa warga kota umumnya sadar akan pentingnya menyiapkan kebutuhan darurat ketika listrik padam, tetapi sangat minim dalam mempersiapkannya.

Kelompok masyarakat yang paling terdampak saat pemadaman listrik adalah kelompok rentan seperti lansia, disabilitas, dan orang-orang yang bergantung pada perangkat elektronik untuk alasan kesehatan.

Mereka seringkali merasa terancam karena keterbatasan fisik dan kesehatan yang dimiliki. Kelompok ini bahkan lebih mungkin mengalami serangan keapanikan (anxiety/panic attack)karena keadaan gelap, yang dapat berujung pada resiko jatuh, kepanasan, atau bahkan kematian.

Pendekatan berbasis komunitas

Kegagalan listrik kemarin merupakan peristiwa dengan durasi pemadaman terparah semenjak 1991.

Tidak ada yang bisa memastikan apakah di masa depan tidak akan terjadi peristiwa serupa bahkan lebih parah. Hal yang pasti bisa dilakukan adalah mempersiapkannya.

Kita dapat belajar dari Kota Tracy di California yang memiliki serangkaian langkah persiapan ketika terjadi persitiwa pemadaman listrik.

Bekerja sama dengan perusahaan penyedia listrik PG&E untuk menjalankan protokol Public Safety Power Shutoff (PSPS), sejumlah langkah yang disiapkan, antara lain:

  1. Air: ketika terjadi pemadaman listrik, suplai air ke rumah masyarakat akan tetap berjalan dengan menggunakan pembangkit (generator) yang tersedia. Jika pemadaman listrik terjadi lebih dari satu hari, aliran air akan diutamakan untuk layanan kesehatan.
  2. Pengendalian lalu lintas: lampu lalu lintas akan tetap berjalan dengan lancar pada 10 persimpangan utama kota menggunakan generator yang bisa bertahan hingga 10 jam.
  3. Transportasi umum:  menjamin ketersediaan bus umum yang beroperasi menggunakan diesel/gas untuk dapat tetap melayani penumpang. Setiap bus dilengkapi dengan radio yang akan memberikan informasi tempat-tempat terjadinya pemadaman untuk mengantisipasi minimnya sinyal akibat mati listrik.
  4. Kerjasama dengan pemerintah lokal, sekolah, rumah peribadatan, NGO dan komunitas. Kerjasama yang dilakukan mulai dari memastikan jaringan komunikasi agar tetap lancar sampai pemberian bantuan logistik, medis, dan fasilitas pelayanan lainnya yang dibutuhkan ketika pemadaman listrik.

Khusus untuk kelompok masyarakat rentan, PG&E menyediakan program “Medical Baseline Program” yang menyuplai generator listrik dengan harga yang sangat terjangkau. Ini dapat digunakan untuk membangkitkan fasilitas penghangat ataupun pendingin ruangan sesuai kebutuhan khususnya saat terjadi PSPS.

Kegagalan jaringan listrik bisa terjadi kapan saja namun kegagalan tersebut bisa berubah menjadi bencana jika masyarakat tidak dipersiapkan dengan baik.Pendekatan untuk melatih dan menyiapkan fasilitas dalam lingkup komunitas bisa menjadi salah satu kuncinya.

Beri tanggapan