Paradoks infrastruktur dalam konteks ketangguhan kota

Meskipun secara umum konsep ketangguhan memiliki keseragaman definisi, tafsir atas tekanan dan guncangan ternyata bervariasi di setiap negara. Ini dapat dilihat dengan membandingkan pengalaman di Belanda dan Indonesia.

Foto: Penumpang tertahan di Schiphol Airport pasca insiden pemadaman listrik 17 Januari 2017 di Amsterdam/ EPA/ROBIN UTRECHT 
Foto: Penumpang tertahan di Schiphol Airport pasca insiden pemadaman listrik 17 Januari 2017 di Amsterdam/ EPA/ROBIN UTRECHT 

Ketangguhan (resilience) kini telah menjadi salah satu pertimbangan dalam mewujudkan perencanaan kota yang berkelanjutan. Sejak ide awalnya diinisiasi oleh Crawford Stanley Holling, seorang ekologis dari Kanada, pada tahun 1973, konsep ketangguhan mulai santer didiskusikan oleh berbagai pakar lingkungan.

Konsep ketangguhan sendiri secara ringkas berarti mampu kembali berfungsi ke kondisi awal yang stabil (steady condition) setelah diguncang berbagai guncangan (shocks) dan tekanan (stresses).

Istilah ketangguhan ini kemudian berkembang menjadi bahan diskusi dalam perencanaan kota sejak David Godschalk, profesor pakar perkotaan dari University of North Carolina, Amerika Serikat, menuliskan pentingnya mitigasi bencana perkotaan dan penangkalan terorisme untuk mewujudkan kota tangguh. Artikel yang dirilis pada tahun 2003 itu menyebar luas dan menjadikan istilah ketangguhan kota (urban resilience) sebagai topik yang hingga kini marak didiskusikan.

Meskipun secara umum konsep ketangguhan memiliki keseragaman definisi, tafsir atas tekanan dan guncangan ternyata bervariasi di setiap negara. Variasi tersebut bisa dilihat baik dari sisi geografis, kekuatan ekonomi, ataupun kondisi sosial masyarakat. Apakah kemudian kota-kota di negara maju yang memiliki kestabilan ekonomi dan infrastruktur yang memadai pasti tergolong tangguh? Belum tentu.

Untuk saat ini, cara paling mudah mengetahui kota-kota tangguh di dunia adalah dengan melihat daftar kota yang berafiliasi dalam 100 Resilient Cities. Jika kita meilihat profil masing-masing kota, ternyata setiap kota memiiki guncangan dan tekanan yang berbeda. Hal ini dipengaruhi juga oleh cara pandang masyarakat menghadapi sebuah situasi.

Kasus Listrik Padam di Belanda

Saya pernah mengikuti sebuah diskusi mengenai ketangguhan kota ini di Utrecht University, Belanda. Saat itu studi kasus yang dibawa adalah mengenai Kota Amsterdam, Ibukota Belanda.

Amsterdam rupanya pernah mengalami kalang kabut luar biasa ketika pemadaman listrik total terjadi meski kemajuan infrastrukturnya begitu pesat dan mutakhir. Peristiwa yang menimpa Amsterdam bagian utara pada 17 Januari 2017 dini hari tersebut tercatat sebagai salah satu kegagalan infrastruktur terparah sepanjang sejarah di Negeri Kincir Angin.

Atas kejadian ini, setidaknya 360 ribu rumah menjadi korban. Aktivitas rumah tangga yang sebagian besar bergantung pada pasokan listrik lumpuh. Mereka kesulitan memasak (hampir tidak ada kompor gas di Belanda), menyediakan air panas, menyalakan pemanas ruangan, dan lainnya.  Terlebih, kondisi ini diperparah oleh suhu kota yang saat itu mencapai -4 derajat Celcius. Warga hanya bisa mengandalkan baju hangat dan selimut untuk menghangatkan diri (menyalakan api di rumah bisa memicu pemadam otomatis).

Tidak hanya melumpuhkan aktivitas rumah tangga, pemadaman juga berdampak pada gangguan sistem transportasi. Perjalanan kereta harus dihentikan dari dan menuju ke Amsterdam, termasuk ke Schiphol Airport. Hal ini disebabkan sistem pengaturan jadwal termasuk arus masuk dan keluar kereta sudah terkomputerisasi.

Padahal kereta bagi masyarakat Belanda merupakan salah satu moda transportasi yang penting terutama bagi para komuter. Penghentian sementara ini tentu saja melumpuhkan aktivitas tidak hanya di Amsterdam sendiri, melainkan di seluruh penjuru negeri Belanda mengingat kota tersebut merupakan pusat aktivitas bisnis dan ekonomi.

Pemadaman listrik yang terjadi di Amsterdam ini sebenarnya “hanya” terjadi selama kurang lebih 5 jam, mulai dari pukul 04.00 dini hari hingga kembali pulih pada pukul 09.00. Namun, perisitiwa di atas secara jelas menggambarkan kacaunya sistem perkotaan di Amsterdam dan Belanda pada umumnya akibat tidak adanya pasokan listrik. Seperti dilansir dari NL Times, masyarakat Amsterdam pun panik karena banyak laporan ke otoritas kepolisian. Sejak saat itu banyak pakar dan ilmuwan yang mempertanyakan ketangguhan kota Amsterdam.

Bandingkan dengan Indonesia

Peristiwa yang terjadi di Amsterdam tersebut mungkin di satu sisi terlihat “menggelikan” bagi para penduduk negara berkembang seperti Indonesia. Padamnya listrik selama “hanya” 5 jam saja ternyata membuat porak poranda sistem perkotaan.

Bandingkan dengan kota-kota di Indonesia yang paling tidak sebulan sekali pernah mengalami pemadaman dan bukan hal yang luar biasa jika berlangsung selama hampir sehari. Pemerintah kota pun tidak menyediakan bantuan karena memang pada dasarnya tidak ada masyarakat yang mengalami kepanikan. Lalu, apakah bisa dibilang kota-kota di Indonesia lebih tangguh daripada Amsterdam?

Mari kita kembali lagi ke fakta bahwa cara pandang masyarakat dalam menghadapi guncangan dan tekanan berbeda-beda. Di Amsterdam, gagalnya infrastruktur listrik bisa menjadi masalah karena pemerintah telah lama menyediakannya dan hampir 100% aktivitas masyarakat sangat bergantung pada listrik.

Namun di kota-kota besar Indonesia, kegagalan infrastruktur bukanlah hal yang “luar biasa”. Boleh dibilang masyarakat kita telah terbiasa dengan kegagalan infrastruktur dan mulai beradaptasi dengan itu. Pemadaman listrik? Masih ada lilin, memasak bisa menggunakan gas, gawai bisa ditambah daya dengan power bank, dan lainnya.

Cara pandang mengenai guncangan dan tekanan bagi masyarakat kita justru terkait dengan bencana alam seperti banjir, gempa bumi, gunung meletus, dan lainnya.

Misalnya Semarang, salah satu kota di Indonesia yang terafiliasi dalam jejaring 100 Resilient Cities. Ibukota Jawa Tengah ini mengategorikan kekeringan, banjir/rob, wabah penyakit, dan abrasi sebagai guncangan dan tekanannya.

Padahal jika mau dibandingkan terhadap studi kasus Amsterdam, masih banyak kekurangan infrastruktur di Semarang yang perlu untuk dibenahi seperti penyediaan air bersih yang masih terdapat 20% penduduk belum terlayani oleh PDAM, ganguan listrik (tahun 2013 tercatat gangguan sebanyak 1.144 laporan), dan sistem transportasi publik yang belum optimal. Namunhal itu bukan menjadi kendala utama masyarakat untuk beraktivitas. Justru, bencana alam seperti banjir dan rob lah yang menjadi gangguan masyarakat.

Kota Semarang sendiri bisa menjadi tangguh karena masyarakatnya yang mampu beradaptasi. Tanpa campur tangan pemerintah, masyarakat sudah sejak lama menginisiasi aktivitas adaptasi terhadap tekanan banjir dan rob seperti menaikkan lantai rumah dan membangun tanggul dari karung-karung. Program unggulan Kota Tangguh Kota Semarang pun seperti dijelaskan dalam Buku Strategi Ketahanan Kota Semarang lebih menekankan pada pemberdayaan masyarakat, seperti pembentukan Kelompok Siaga Bencana (KSB) dan sistem rain water harvesting sederhana di rumah-rumah warga, daripada pembangunan mega proyek infrastruktur.

Pemberdayaan masyarakat dengan pembentukan Kelompok Siaga Bencana merupakan strategi ketangguhan Kota Semarang/ Nyoman Prayoga
Pemberdayaan masyarakat dengan pembentukan Kelompok Siaga Bencana merupakan strategi ketangguhan Kota Semarang/ Nyoman Prayoga

Mewujudkan ketangguhan kota memang kontekstual. Tidak ada standar yang baku untuk menyeragamkan kota-kota di dunia. Infrastruktur yang lengkap pun bukan jaminan kota untuk menjadi tangguh, seperti kasus yang terjadi di Amsterdam.

Memang dengan infrastruktur, Kota Amsterdam yang berada di bawah permukaan laut menjadi aman dari bahaya rob dan banjir, tetapi di sisi lain masyarakat yang sudah terbiasa hidup dari infrastruktur yang lengkap dan mutakhir ini menjadi kalang kabut saat terjadi malfungsi. Sebaliknya, Kota Semarang, dengan penyediaan infrastruktur yang masih belum optimal ternyata bisa dengan mudah mewujudkan ketangguhan karena masyarakatnya yang sudah terbiasa proaktif dan adaptif.

Beri tanggapan