Minim ruang terbuka publik? Belajar “menyulap” dari tiga kasus di kota-kota ini

Yuk belajar dari tiga kasus ini: menyediakan ruang publik di tengah terbatasnya lahan perkotaan.

Foto: Seoul's Cheonggye Stream/ cityclock.org - Kimmo Räisänen
Foto: Seoul's Cheonggye Stream/ cityclock.org - Kimmo Räisänen

Ruang terbuka publik (open public space) diyakini sebagai oase yang mampu memproduksi penawar stres bagi warga kota. Ia menjadi tempat berkumpul bersama kerabat dan sanak saudara sekaligus bersosialisasi dengan kebaikan alam. Selanjutnya, ruang terbuka tidak hanya memberikan keuntungan sosial tetapi juga dapat menumbuhkan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Tengoklah, Taman Suropati di Jakarta Pusat. Ia tidak hanya menjadi tempat berolahraga dan berlatih musik tetapi juga tempat bertumbuhnya usaha kaki lima yang menjajakan makanan dan minuman ringan.

Dalam konteks pembangunan, perhatian tentang pentingnya ruang terbuka publik  sudah ada sejak lama. Misalnya, konsep tata ruang kota-kota lama di Pulau Jawa yang meletakan ‘alun-alun’ sebagai salah satu komponen utama pembentukan sebuah kota. Alun-alun Utara Yogyakarta merupakan ruang terbuka yang sudah digunakan Kesultanan Yogyakarta lebih dari 100 tahun.

Hingga kini, eksistensi ruang terbuka publik terus dikembangkan, antara lain dalam bentuk taman-taman kota. Beberapa kota seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, dan Surakarta berbondong-bondong membangun sejumlah taman, sekaligus untuk memenuhi kewajiban menyediakan 30% ruang terbuka hijau di perkotaan.

Menyediakan sebuah taman tentu memiliki tantangannya sendiri. Apalagi kota selalu dihadapkan dengan keterbatasan dan persaingan penggunaan lahan. Namun beberapa kasus menunjukan strategi yang “tidak biasa”, yaitu dengan menyulap infrastrukur atau bangunan yang sudah ada menjadi sebuah ruang terbuka publik. Contoh proyek pemerintah kota yang mengubah infrastrukturnya menjadi taman adalah Taman Menteng di Jakarta, Taman Undaan di Surabaya, dan Cheong Gye Cheon di Seoul, Korea Selatan.

Mengubah stadion menjadi Taman Menteng, Jakarta

Pembangunan Taman Menteng pada tahun 2006 menjadi kontroversial karena harus merobohkan Stadion yang menjadi basis klub sepakbola. Namun, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepimimpinan Sutiyoso meyakini jika pembangunan Taman Menteng akan lebih bermanfaat bagi warga Jakarta.

Sepuluh tahun lebih setelah Stadion Menteng dibongkar, Taman Menteng menjadi salah satu tempat nongkrong bagi anak muda Jakarta. Pada sore hari, banyak warga berkumpul di taman tersebut. Lapangan basket menjadi tempat yang cukup digemari dan biasa dimanfaatkan anak-anak muda untuk berlatih.

Taman Menteng, Jakarta. Sumber foto: angkutkoper.com
Taman Menteng, Jakarta. Sumber foto: angkutkoper.com

Pembangunan Taman Menteng memberikan manfaat positif secara sosial dan lingkungan. Ia menjadi  alternatif  bersantai, selain berkunjung ke pusat-pusat perbelanjaan. Terlebih lagi, pengunjung tidak dipungut biaya. Fasilitas di sekitar Taman Menteng juga cukup memadai seperti pusat jajanan, toilet, tempat parkir, dan mushola. Desain ruang terbuka yang hijau juga dapat mengurangi polusi dan suhu panas kota, serta menjaga estetika.

Membongkar pom bensin menjadi Taman Undaan, Surabaya

Surabaya merupakan contoh kota yang rajin membangun taman. Pembangunan taman yang tersebar di seluruh sudut membuat kota tersebut lebih asri. Setiap taman di Kota Surabaya memiliki tema khusus yang memberikan identitas dan pengalaman berbeda bagi para penikmatnya. Termasuk Taman Udaan, yang betema buah-buahan.

Taman Undaan, Surabaya. Sumber foto: rri.co.id
Taman Undaan, Surabaya. Sumber foto: rri.co.id

Dengan tema tersebut, selain menjadi tempat berkumpul warga Surabaya, taman Undaan biasa dimanfaatkan oleh orang tua untuk mengajari anaknya tentang berbagai jenis buah-buahan. Lokasinya yang berada di dekat jalan raya juga dapat membantu untuk mengurangi polusi kota.

Dibalik keindahannya, tidak banyak yang tahu jika sebelumnya taman tersebut merupakan pom bensin yang dibongkar oleh Pemerintah Kota Surabaya. Lahan disulap menjadi lokasi baru bagi warga Surabaya untuk saling bersosialisasi.

Menghancurkan jalan layang, merestorasi Cheonggyecheon, Seoul

Tidak hanya di Indonesia, Seoul bahkan menghancurkan infrastrukturnya untuk membuat ruang terbuka publik. Restorasi Sungai Cheong Gye Cheon merupakan proyek nasional di Korea Selatan. Sungai Cheonggyecheon merupakan aliran sungai yang sudah ada di pusat Kota Seoul sejak zaman Dinasti Chosun. Pada tahun 1700, sungai tersebut ditutup oleh jalan raya yang di bangun diatasnya dan menimbulkan berbagai masalah lingkungan.

Pada tahun 2012, Walikota Seoul terpilih memutuskan untuk membongkar jalan layang tersebut dan mengubahnya menjadi ruang terbuka publik untuk mengembalikan aliran Sungai Cheonggyecheon. Desainnya terbagi menjadi tiga bagian dengan tema berbeda yaitu budaya kultural, budaya perkotaan, dan alam untuk memberikan nuansa berbeda bagi para pengunjungnya.

Cheonggyecheon River Before and After. Sumber foto: landscapeiskingston.wordpress.com
Cheonggyecheon River Before and After. Sumber foto: landscapeiskingston.wordpress.com

Setelah pembangunan tersebut selesai, Cheonggyecheon menjadi tempat tujuan utama bagi warga untuk berkumpul dan menyegarkan fikiran dari penatnya tekanan hidup di perkotaan. Taman tersebut juga menjadi tempat untuk membudidayakan berbagai jenis unggas dan menjadi tujuan siswa untuk belajar.

Komitmen menjadi penting

Dari ketiga kasus tersebut, kita dapat belajar tentang pentingnya ruang terbuka publik di wilayah perkotaan. Taman terbukti memberi manfaat positif bagi kehidupan warganya dari sisi sosial, ekonomi, dan kelestarian lingkungan. Tak hanya itu, ia juga dapat membentuk identitas kota yang menjembatani warganya agar lebih mengenal lingkungan tempat mereka tinggal.

Keterbatasan lahan di perkotaan rupanya tetap dapat “disiasati” untuk menyediakan ruang terbuka publik di suatu kota. Dengan komitmen yang kuat dari pemerintah, target 30% ruang terbuka hijau di perkotaan rasanya tetap menjadi hal yang penting dan mungkin untuk diwujudkan.

Beri tanggapan