Menjelaskan kebiasaan meludah dan penyebaran penyakit di perkotaan

Bila dipahami sebagai hak asasi manusia, meludah adalah hal yang sah-sah saja. Akan tetapi, prinsip hidup yang juga mendasar tetap perlu dipegang, yaitu menghargai insan yang lain.

Ilustrasi: Meludah /AnaIriat
Ilustrasi: Meludah /AnaIriat

Dari banyak kebiasaan orang-orang yang saya anggap kurang etis, meludah sembarangan adalah salah satunya. Biasanya saya memanggil mereka yang senang meludah sembarangan dengan sebutan atlet. Atlet lempar ludah tepatnya.

Sebenarnya, bila dipahami sebagai bagian dari hak asasi manusia, meludah adalah hal yang sah-sah saja. Apalagi saat kondisi tenggorokan sedang tidak bersahabat. Akan tetapi, prinsip hidup yang juga mendasar tetap perlu dipegang, yaitu menghargai insan yang lain.

Meludah perlu dilakukan dengan adil di tempat-tempat yang tepat seperti kamar mandi atau saluran pembuangan. Tentu, saudara-saudara akan merasa jijik kan melihat gumpalan ludah berceceran dimana-mana bukan?

Mengganggu Kesehatan Kota

Fenomena ludah-meludah ini mengingatkan saya pada sebuah gim bernama Plague Inc. Gim yang dapat diunduh di Playstore dan App Store itu bertujuan untuk memusnahkan peradaban di muka bumi dengan menyebarkan virus atau bakteri. Agak “dark” ya? Memang.

Tantangan dari gim ini, pemain harus mampu mempertahankan penyebaran infeksi dengan meningkatkan kemampuan virus/ bakteri dan meningkatkan skalanya. Pemain akan kalah apabila infeksi dapat dinetralisir dengan antidot yang dikembangkan oleh negara-negara di gim tersebut. Apa metode yang paling “digemari”? Menyebarkan penyakit lewat udara.

Karena gim tersebut, saya suka merinding melihat orang-orang yang dengan seenaknya melempar ludah. Khawatirnya, ada banyak penyakit aneh yang terkandung di dalam gumpalan ludah.

Secara kimiawi, ludah atau air liur terdiri dari air dan kandungan lain seperti elektrolit, bakteri, virus, jamur, protein, dan sel-sel lapisan-lapisan mulut. Dari kandungan-kandungan “ajaib” ini, penularan penyakit dapat terjadi dengan mudah sebab bakteri dan virus tidak serta merta langsung mati begitu keluar dari mulut sang atlet.

Beberapa di antaranya mampu bertahan hidup antara 6 hingga 24 jam di udara dan menularkan penyakit seperti pilek hingga penyakit berat seperti tuberkulosis, hepatitis, dan meningitis . Ngeri kan?

Lingkungan Terhadap Perilaku, Vice Versa

Berbekal observasi secara acak dan tidak terukur, saya mencoba mengamati faktor-faktor penyebab atlet-atlet ini melakukan aksinya dengan mudah. Saya menemukan bahwa atlet-atlet ini cenderung melakukan aksinya di Lingkungan Kotor ketimbang di Lingkungan Bersih.

Lingkungan Kotor dalam konteks ini merupakan lingkungan yang memiliki kecenderungan berupa lingkungan yang terbuka namun tidak tertata. Pada lokasi-lokasi seperti jalan, trotoar, tempat parkir, atau taman terbuka yang becek dan tidak terurus, atlet-atlet ini serasa diberikan “karpet merah” untuk melancarkan aksinya.

Sebaliknya, lingkungan yang bersih identik dengan lingkungan yang teratur, tertutup, dan terawat seperti rutin disapu, di-pel, dan di-lap. Lingkungan ini biasanya dapat ditemui di Mall, gedung kantor, atau ruangan utama masjid. Di lingkungan ini, saya mengidentifikasi bahwa atlet-atlet memilih untuk menahan kebiasaannya. Belum pernah lihat kan ada orang yang meludah dengan seenaknya cah cuh cah cuh di dalam Mall Grand Indonesia?

Namun, dalam beberapa kasus, saya menemukan sejumlah orang tetap meludah di lingkungan yang relatif bersih seperti  di stasiun kereta komuter di Jakarta. Anomali ini ternyata dikarenakan beberapa stasiun kereta masih menggunakan aspal atau beton sebagai komponen perkerasan peron. Ditambah lagi suasana semi-terbuka peron kereta yang menciptakan suasana outdoor ketimbang indoor (beda halnya dengan stasiun-stasiun kereta jarak jauh seperti Stasiun Gambir dan stasiun Yogyakarta).

Hal inilah yang saya perkirakan sebagai faktor masih banyaknya atlet-atlet yang tidak sungkan untuk melakukan aksinya di stasiun. Jadi, karena lingkungan yang tercermin justru Lingkungan Kotor, perilaku yang muncul adalah perilaku di Lingkungan Kotor. Alih-alih membentuk persepsi lingkungan yang bersih dan teratur di stasiun, persepsi lingkungan yang diterima justru lingkungan kotor.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Dalam satu kuliah tentang Human Spatial Behaviour di UCL, Prof Daniel Stokols menyatakan bahwa kondisi lingkungan fisik turut mempengaruhi kondisi sosial atau perilaku seseorang. Semisal apabila dalam suatu kawasan perumahan dipenuhi pagar-pagar tinggi, ada kecenderungan bahwa masyarakat merasa insecure terhadap keamanan di sana. Alhasil orang-orang cenderung lebih menutup diri dan tidak terlalu percaya pada orang lain, meskipun tetangganya sendiri.

Jadi, sederhananya, perilaku manusia dapat dipengaruhi dan mempengaruhi suatu ruang. Perilaku yang dipengaruhi ruang akan membuat manusia mengubah perilakunya mengikuti lingkungan fisik yang ada.

Contohnya seperti kasus ludah-meludah ini. Masyarakat, yang juga dipengaruhi oleh kebiasaan, cenderung berperilaku sesuai dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Pada Lingkungan Bersih, masyarakat cenderung menahan diri untuk tidak meludah sembarangan karena terpengaruh dengan suasana lingkungan yang serba bersih dan tertata. Begitu sebaliknya di lingkungan yang kotor.

Di sisi yang lain, manusia juga dapat mempengaruhi ruang. Caranya dengan melakukan intervensi terhadap lingkungannya agar dapat berfungsi sesuai dengan yang dikehendakinya.

Hal ini dapat dilakukan dengan mendesain ruang agar sesuai dengan fungsinya, membuat peraturan tertulis, atau membuat batasan-batasan yang logis dalam membentuk ruang kota. Sebagai contoh, Singapura yang secara tegas mendenda S$ 300 (setara Rp 3 juta) bagi atlet-atlet yang kedapatan meludah sembarangan.

Cara sederhana juga dapat dilakukan dengan mengurangi kebiasaan diri atau mengingatkan saudara dan sahabat terdekat untuk tidak membuang ludah sembarangan. Ingat, penyakit tak mengenal siapapun termasuk kepada orang yang hanya menjaga dirinya sendiri.

Beri tanggapan