Mengintip Suroboyo Bus, wajah baru angkutan masal

Suroboyo Bus tidak hanya tersohor di di dalam negeri tetapi juga sudah di dunia sebagai moda angkutan yang turut berkontribusi pada kelestarian lingkungan.

Suroboyo Bus, Humas Pemkot Surabaya.

“Saya jatuh hati pada warna merahnya. Warna yang begitu senada dengan bus yang bergerak di jalanan London. Kini, tiap hari saya menemuinya di jalanan Surabaya.”

Begitulah kesan pertama saya pada Suroboyo Bus. Saya ingat, suatu pagi di Bulan April, bus yang baru diresmikan itu tak sengaja tertangkap kamera ponsel saya. Selepas hari itu, keinginan untuk menaiki Suroboyo Bus semakin kuat. Syukur, beberapa hari kemudian saya pun dapat menjajal satu-satunya bus di Indonesia yang hanya menerima sampah sebagai alat pembayarannya itu.

***

Matahari belum begitu tinggi. Jam di tangan masih menunjukkan pukul delapan. Saya berjalan santai menuju marka merah bertuliskan “bus stop” di sekitar Siola, beberapa meter dari lokasi parkir TEC. Saya pun tak sabar menunggu bus yang digadang-gadang sebagai wajah baru moda angkutan Surabaya.

Tak lama, bus pun datang. Beberapa sudut sempat saya abadikan. “Mumpung, hari ini sedang tidak buru-buru”, batin saya.

Dari luar, bus besutan Mercedes Benz itu bukan hanya mulus tapi juga memiliki warna yang classy. Suro dan Boyo digambar besar di bagian belakang body seakan hendak berteriak, “iki lhoo rek Bus Suroboyo!”

Puas mengabadikan luarnya, saya pun masuk melalui pintu tengah. Petugas berseragam biru tua menyambut ramah. Ia menerima sampah yang saya bawa dan meletakkannya di kotak putih, dekat tempat duduknya. Ya, Suroboyo Bus memang hanya menerima sampah sebagai satu-satunya alat pembayaran.

Fasilitas di dalam bus

Di dalam, saya leluasa memilih tempat duduk. Mungkin karena perjalanan yang saya tempuh tidak di jam sibuk kerja.  Duduk di barisan orange, saya pun mulai mengamati fasilitas yang ada.

Bus memiliki 41 kursi dengan handle yang ditata sedemikian rupa agar penumpang nyaman selama perjalanan. Kondisinya begitu bersih dengan sudut-sudut kaca tertempel tanda “tidak boleh makan dan merokok”.

Ada pemisahan kursi khusus perempuan dan penumpang prioritas. Pemisahan  ini bukan tanpa maksud. Diantaranya adalah untuk meminimalisir tindak pelecehan seksual dan membantu mereka yang berkebutuhan khusus, seperti para lansia, ibu hamil juga difabel. Bagi pengguna kursi roda, tidak perlu khawatir karena bus memiliki platform khusus yang memudahkan mereka naik-turun kendaraan.

Dari segi keamanan, bus dilengkapi dengan kamera cctv yang terpasang di tiap sudutnya. Dalam keadaan darurat, tersedia martil pemecah kaca dan alat pemadam api ringan (APAR) yang siap menjaga penumpang kalau-kalau pintu tidak bisa dibuka saat terjadi musibah atau kebakaran.

Untuk mengetahui sudah sampai dimana perjalanan kita, sumber suara akan memberitahu halte henti terdekatnya. Penumpang juga dapat menggunakan tombol stop untuk berhenti di halte-halte yang kita inginkan. Dengan itu, kita tidak perlu berteriak “pak berhenti pak!”.

Nah jika saya diminta untuk menilai keseluruhan performa bus ini, saya tak ragu untuk memberi angka 9.3 dengan rentang 1-10. Am i serious? Yeah, sure. Berkat fasilitas dan cara pembayarannya yang inovatif, Suroboyo Bus tidak hanya tersohor di di dalam negeri tetapi juga di dunia. World Economic Forum pernah mempublikasikan video tentang Suroboyo Bus sebagai moda angkutan yang turut berkontribusi pada kelestarian lingkungan.

Nah, kalau sudah begini, rasanya sah-sah saja bila saya menilai Suroboyo Bus ini adalah wajah baru moda angkutan publik yang super keren, ya kan? Maka itu, jangan ragu untuk mulai beralih.

Beri tanggapan