Melestarikan warisan budaya di ruang ketiga

Ruang ketiga adalah ruang yang berada di antara rumah (ruang pertama) dan tempat bekerja (ruang ke dua) sebagai titik bertemu dan berinteraksinya masyarakat.

Foto: Musik Tepi Jalan - Terowongan Sudirman/ Rendy A. Diningrat
Foto: Musik Tepi Jalan - Terowongan Sudirman/ Rendy A. Diningrat

Istilah ‘ruang ketiga’ (third space) semakin sering diperbincangkan dalam konteks pembangunan perkotaan. Secara konseptual, Ray Oldenburg mendefinisikan ruang ketiga sebagai ruang yang berada di antara rumah (ruang pertama) dan tempat bekerja/ belajar/ berkegiatan sehari-hari (ruang ke dua) sebagai titik bertemu dan berinteraksinya masyarakat.

Di Jakarta, beberapa contoh ruang ketiga yang telah dikembangkan oleh pemerintah provinsi (pemprov), antara lain Lapangan Banteng, Taman Dukuh Atas, Terowongan Kendal dan jalur pedestarian di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman dan M. H. Thamrin.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjanjikan akan mengembangkan ruang ketiga lebih banyak lagi di wilayahnya. Ia pun beberapa kali berharap agar ruang ketiga diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat interaksi antar warga ibukota dari berbagai latar belakang, tetapi juga wadah untuk atraksi seni dan budaya.

Ruang ketiga memang sangat strategis menjadi “panggung pertunjukan” karena lokasinya yang selalu ramai orang. Ia dapat digunakan untuk menampilkan aneka ekspresi budaya secara reguler, baik yang sifatnya tradisional, kreasi baru maupun kontemporer.

Hal itu telah coba diwujudkan pemprov DKI dalam beberapa kesempatan. Sejumlah pertunjukan bertajuk Musik Tepi Barat, yang awalnya digelar untuk memeriahkan Asian Games 2018, kini dikembangkan di beberapa titik seperti depan Mall Fx Sudirman, Plaza Senayan dan Sona Topas Tower pada jam-jam pulang kantor.

Musik Tepi Barat

Selain itu, ada pula perhelatan seni tari Betawi di Terowongan Kendal dan Lapangan Banteng, serta seni lukis mural dan produksi instalasi seni lainnya di beberapa titik di wilayah ibu kota.

Bagus, tapi kehabisan ide

Pemprov DKI memang telah berupaya mengembangkan ruang ketiga, Namun, munculnya kritik bahwa seni budaya yang ditampilkan di ruang tersebut hanya yang itu-itu saja perlu dipertimbangkan.

Pemprov DKI dinilai masih terpaku pada ekspresi budaya Betawi yang sudah populer seperti lenong, gambang kromong, tanjidor, buka palang pintu, dll. Padahal ruang ketiga dapat dimanfaatkan untuk mengangkat kembali kesenian Betawi yang sudah mulai tidak familiar bagi masyarakat dengan melibatkan sanggar, sekolah atau universitas yang memiliki program pembinaan seni budaya.

Agar tak kekurangan ide, pemrprov sebenarnya dapat memanfaatkan daftar warisan budaya takbenda yang telah mereka himpun sendiri melalui dinas kebudayaan dan pariwisata setiap tahunnya. Dengan demikian, pemprov mestinya sudah tahu siapa saja komunitas atau maestro seni yang dapat digandeng untuk mementaskan ekspresi budaya tersebut.

Menurut catatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, terdapat 122 warisan budaya takbenda yang diakui sebagai warisan budaya nasional dari Jakarta yang sudah sejak tahun 2010 hingga 2019. Bila melihat daftarnya, maka pemprov DKI bisa menampilkan jenis seni budaya yang berbeda-beda di setiap minggunya.

Membangkitkan lagi ragam warisan budaya: atraksi seni hingga makanan

Pemprov DKI perlu terus berkomitmen dalam menghidupkan masing-masing warisan budaya takbenda tersebut dengan menghadirkannya di ruang-ruang kehidupan warga Jakarta. Ini sekaligus menjadi bentuk tanggungjawab pemprov agar warisan budaya tidak hanya berhenti pada pencatatan tetapi juga pelestarian.

Seni silat Betawi adalah salah satu contoh warisan budaya takbenda asal Jakarta yang perlu dibangkitkan di ruang ketiga. Banyak orang yang tidak tahu bahwa silat Betawi ternyata ada beragam macamnya yaitu silat sabeni, silat tiga berantai, silat cingkrik, silat mustika kwitang, silat pusaka, silat trotok dan silat silo monyet putih.

Selain itu, pertunjukan-pertunjukan seperti dolalak, samrah, topeng blantek, rebana hadroh, tari yapong, blenggo, rancag, cokek, dan lain-lain juga sudah saatnya kembali diangkat oleh pemprov DKI. Beberapa orang mungkin saja pernah mengetahuinya dari internet, buku atau pelajaran muatan lokal di sekolah namun menyaksikan pertunjukannya secara langsung akan memberikan pengalaman yang berbeda.

Selain atraksi seni, keterampilan dan kemahiran tradisional seperti kuliner tradisional juga dapat dipromosikan oleh pemprov DKI di ruang ketiga ibukota.

Orang-orang yang tinggal di Jakarta mungkin sudah hapal di luar kepala jika ditanya tentang bir pletok, kerak telor, kembang goyang atau roti buaya.Tapi bagaimana dengan putu mayang, keripik sukun, sayur besan, nasi ulam, gabus puncung, ongol-ongol, kue cincin, dan klinca?

Jangankan menemuinya di pasar dan mencicipinya, mungkin beberapa nama makanan itu sudah tidak lagi diperbincangkan oleh masyarakat ibukota. Padahal mereka semua termasuk dalam daftar warisan budaya takbenda dari Jakarta yang sudah diakui secara nasional. Pemprov DKI dapat mengadakan acara festival jajanan Betawi atau demo masak di ruang ketiga ibukota, dengan fokus pada kuliner yang sudah kurang populer.

Butuh strategi jemput bola

DKI Jakarta memang telah memiliki pusat budaya Betawi seperti di Taman Benyamin Sueb, Perkampungan Budaya Setu Babakan, dan beberapa sanggar yang tersebar di berbagai wilayah. Di lokasi-lokasi tersebut secara berkala dipentaskan kesenian Betawi baik yang tradisional maupun kreasi baru.

Namun, strategi jemput bola sangatlah diperlukan untuk mendorong pelestarian budaya Betawi ke generasi muda. Upaya itu tidak bisa hanya mengandalkan inisiatif masyarakat untuk datang dan mempelajari budaya Betawi di tempat-tempat tersebut. Selain karena lokasinya yang dinilai jauh bagi sejumlah kalangan, akses transportasi umum ke tempat tersebut juga tidak mudah. Tidak heran jika mayoritas pengunjungnya hanya ramai datang pada saat libur panjang atau acara perayaan tertentu.

Apabila ditampilkan di ruang ketiga Jakarta yang tersebar di titik-titik pusat kota, maka lebih banyak masyarakat yang dapat mengetahuinya. Secara kuantitas, jumlah penontonnya akan banyak dan tidak memerlukan adanya pengerahan massa. Di sisi lain, audiens yang akan terpapar dengan pertunjukan seni budaya itu juga sangat beragam, baik dari segi usia, jenis pekerjaan, latar belakang pendidikan, status ekonomi, dan lain-lain.

Pelestarian budaya Betawi di ruang ketiga ibukota ini juga sejalan dengan misi Anies untuk menjadikan Jakarta sebagai kota seni budaya. Berulang kali ia menegaskan bahwa kota ini tidak boleh hanya selalu diidentikkan dengan pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan. Ekspresi dan kreativitas budaya, termasuk upaya-upaya mempertahankan identitas budaya Betawi perlu diberikan ruang yang lebih luas dan konsisten dalam pembangunan Jakarta.

Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis yang tidak mewakili pandangan lembaga

Beri tanggapan