Kasat mata atau tidak, udara bersih adalah hak untuk hidup

Mungkin saat ini kita sedang mempelajari kompleksitas kualitas udara kota dan, di saat yang bersamaan, belajar merawat kesadaran masyarakat.

Commuting activity in Jakarta - UN Women/Ryan Brown

Ini pertama kalinya aku mengikuti pemantauan kualitas udara. Tampak tiga orang dengan rompi lapangan berwarna mencolok, berdiri di sekitar Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (Air Quality Monitoring Station/ SPKU). Mereka adalah para pemantau dengan pengalaman penelitian yang lebih panjang daripada aku, si anak bawang.

Mereka bercerita, dari waktu ke waktu, akan ada seorang petugas yang membuka perangkat tersebut, memeriksa apakah ia masih sesuai standard kalibrasi dan memperbaiki kalau-kalau ada penyimpangan atau kerusakan.

Perangkat ini adalah satu dari lima perangkat yang memantau kualitas udara secara otomatis dan 24 jam non-stop di Jakarta.

Formaldehida, hidrokarbon, dan partikulat

Setiap hari selama satu bulan ke depan, dari jam tujuh pagi sampai sepuluh malam, aku akan menemani mereka melakukan sampling sejumlah partikel yang melayang-layang di udara.

Aku berteman dengan mereka, sebagaimana kami belajar berteman dengan berbagai polutan dalam udara kota. Masing-masing petugas menekuni satu polutan spesifik. Itu dilakukan setiap hari, di samping alat-alat yang berharga itu, kecuali kalau sedang istirahat.

Senyawa tersebut, diantaranya partikulat, hidrokarbon, dan senyawa oksidan khususnya formaldehida.

Apa itu formaldehida? Terakhir kali aku dengar kasus pengawet formalin dalam bakso. Dari namanya, kedua senyawa kimia itu masih bersaudara.

Seorang kawan pernah melontarkan celetukan, “Kalau memang benar ada formaldehida di udara yang sehari-hari kita hirup, mungkin kita akan awet muda, seperti mumi.” Aku cuma bisa terkikik lirih.

Apalagi itu hidrokarbon? Ini polutan yang masih jarang diteliti secara mendalam di negri ini, meski beberapa senyawa dalam kelompok itu diduga bersifat karsinogenik alias menyebabkan kanker.

Senyawa ini bersumber dari pembakaran bahan bakar fosil yang tidak sempurna. Ia salah satu yang menjadi penyebab asap-kabut dari reaksi fotokimia yang terjadi karena adanya cahaya matahari—yang lebih sering muncul di siang hari bolong.

Partikulat, yang akar katanya adalah partikel, merupakan yang paling familiar di telingaku. Aku tahu bahwa ada istilah PM 10 dan PM 2.5, yaitu ukuran partikel mikroskopik serupa debu yang bisa dideteksi oleh alat-alat pemantau yang tersedia di pasaran saat ini. Berbagai aktivitas manusia bisa menghasilkan partikulat ini, mulai dari pembangkit listrik sampai bahan bakar fosil.

Memantau kualitas udara dalam jangka waktu panjang adalah suatu pekerjaan berisiko

“Alat-alat itu menghisap polutan. Tubuh kami juga.”, begitu ucap seorang petugas.

Salah seorang pemantau bercerita bahwa suaminya pernah meluangkan waktu satu minggu untuk menemaninya di lapangan. Namun, sang suami keok duluan. Asma akutnya kambuh dan dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD). Beruntung ia tak harus dirawat-inap dan “hanya” diberi obat melalui inhalasi yang biasanya diberikan dengan alat yang dinamakan nebuliser.

Pemantau yang lain pun punya cerita tak kalah mengenaskan. Satu waktu ia pernah seharian mengukur asap dari sekian puluh kendaraan bermotor tanpa pakai Alat Pelindung Diri (APD). Malamnya, ia mendadak lunglai dan mesti mendekam di kasur selama seminggu kemudian. Ia curiga itu akibat paparan karbonmonoksida (CO) berkepanjangan.

Lalu kenapa aku rela berlelah-lelah melakukan kerja yang risikonya membahayakan kesehatan tubuhku?

Awalnya mungkin semata-mata karena rasa penasaran, yang tumbuh secara perlahan-lahan jadi pengabdian. Sebagaimana para pemantau udara yang lain, aku akan tetap melakukan pekerjaan ini walau kami tahu jelas risikonya.

Kompleksitas kualitas udara, kesehatan, dan penataan kota

Ada berbagai kandungan dalam udara yang tak-terlihat dan tak-teraba namun berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Misal, sejumlah pencemar udara mulai diketahui berkorelasi dalam mencetuskan diabetes, walaupun penyakit tersebut juga bisa terjadi karena faktor keturunan maupun pola makan dan olahraga.

Ini masih bisa lebih kompleks lagi.

Olahraga di luar ruangan berisiko membuat paru-paru menghisap lebih banyak polutan, yang sulit diidentifikasi apa-apa saja dan yang mana-mana saja tepatnya, serta butuh waktu sebelum terakumulasi dalam tubuh.

Nyatanya, ada jam-jam tertentu ketika polutan udara teraduk-aduk dan tercampur baur tetapi tidak bergerak jauh sehingga tingkat polusinya paling tinggi. Ini tergantung iklim di tiap daerah.

Untuk kawasan tropis seperti di Indonesia, fenomena ini terjadi ketika pergantian hari, yaitu sebelum matahari terbit (4-6 pagi) dan setelah matahari terbenam (7-9 malam).

Padahal, bagi para pekerja reguler di perkotaan, ini adalah jam-jam untuk berlari, bersepeda, atau sekadar berjalan kaki menuju kantor atau sepulang kantor.

Kami pernah membincangkan kondisi, kontradiksi, dan dilema udara kota semacam ini dengan orang-orang di sekitar kami. Ada berbagai tanggapan. Ada kawan-kawan arsitek dan insinyur yang mempertanyakan kepedulian mereka terkait sejauh mana kegiatan konstruksi memproduksi polusi, sebagaimana wawancara kami dengan Nerea Calvillo berikut ini:

Ada sejumlah pelari, pesepeda, dan pejalan kaki yang kemudian merefleksikan kegiatan kesehariannya: dari awal niatan hidup lebih sehat dan mengurangi polusi dengan tidak menggunakan kendaraan pribadi, tapi malah jadi rentan terserang penyakit.

Ada pula mereka yang gemar berekreasi di taman-taman atau ruang publik lain yang mengeluhkan bahwa ketika menghabiskan waktu cukup lama di luar ruangan, sesampainya di rumah dan membasuh wajah, tampak yang terseka adalah noda-noda kehitaman dan kadang muncul gejala budukan.

Kita bisa bayangkan, seperti apa kompleksitas penataan kota terkait kualitas udara. Berbagai hal saling kait-mengait: transportasi, energi, konstruksi, arsitektur, iklim, taman, rekreasi, olahraga, ritme kota,  dan seterusnya dan masih banyak lagi.

Mungkin kalimat berikut ini terdengar klise: sebagaimana suatu sistem, sebuah perubahan di satu bagian akan mempengaruhi bagian yang lain. Kota adalah kesuatuan sistem terbuka yang dipengaruhi oleh berbagai aktivitas yang-berada-di-dalam-maupun-di-luar-kota.

Refleksi terhadap viralnya kualitas udara Jakarta

Kini, Jakarta dibuat viral karena kualitas udara.

Padahal, Jakarta adalah kota yang memiliki stasiun pemantauan terbanyak dan terlengkap di Indonesia. Artinya, ketersediaan dan pengelolaan data kualitas udara Jakarta adalah yang terbaik dan akurasinya terpercaya.

Di sisi lain, ada perubahan yang terjadi seiring dengan perluasan jaringan dan perkembangan teknologi informasi. Semakin banyak data kualitas udara alternatif (AirVisual, misalkan) yang semakin mudah diakses melalui aplikasi ponsel.

Keramaian perbincangan mengenai “puncak” cemaran udara Jakarta di akhir bulan Juni 2019 adalah bagian dari perubahan ini. Bila sebelumnya kualitas udara adalah sesuatu yang tampak begitu rumit, sekarang data sudah bisa hadir ke layar ponsel.

Perbedaannya adalah, SPKU jumlahnya lebih sedikit namun menghadirkan data dengan akurasi yang lebih tinggi dan sesuai dengan baku mutu legal, sementara data-data dari aplikasi ponsel tersebut berdasar dari alat-alat pengukur yang belum tentu terstandardisasi dan jangkauan deteksi polutannya lebih sedikit.

Sebagaimana kita tahu, jelang gelaran Asian Games 2018, sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menyuarakan tingkat polusi yang masuk kategori “sangat mengkhawatirkan.”

Kemudian, pada bulan Desember 2018, sejumlah warga yang bergabung dalam Gerakan Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta (IBUKoTa) mengajukan gugatan kepada tiga gubernur, tiga kementerian, dan tak lupa pula lembaga kepresidenan.

Terakhir, pada Juni 2019, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) membuka pos pengaduan bagi warga yang merasa dirugikan oleh cemaran udara kota.

Meski tak seberapa, kami berharap bahwa tulisan ini juga bisa menjadi bagian dari perubahan itu—sebagaimana gerakan-gerakan anti-polusi yang memperjuangkan terwujudnya kota sehat sebagai bagian dari hak untuk hidup.

Mungkin saat ini kita sedang mempelajari kompleksitas kualitas udara kota dan, di saat yang bersamaan, belajar meraba-raba—atau lebih tepatnya, mengendus-endus—tantangan dalam membangkitkan dan merawat kesadaran masyarakat.

____

Indrawan Prabaharyaka, PhD student ‎Humboldt-Universität zu Berlin, ikut menulis artikel ini.

Indrawan mengawal program Ngamen Ilmu untuk KETEMPATAN.com. Ngamen Ilmu adalah program yang memberdayakan para cendekia Indonesia di luar negeri untuk merekam pemikiran-pemikiran urban kekinian dari mancanegara dan mendialogkannya dengan kondisi di Indonesia.

Beri tanggapan