Kampung: sebuah manifestasi oeuvre?

Oeuvre merefleksikan estetika yang tidak sekedar ‘bedak’ untuk wajah kota tetapi keindahan yang diproduksi secara kolektif sesuai dengan sosio-kultural warga sehingga tumbuh kenikmatan ‘meruang’.

Kampung dari atas/ Tom Fisk - Pexels

Banjir sudah mulai surut ketika saya datang berkunjung ke sana. Perabotan rumah tangga masih basah dan diletakkan di lapak panggung depan rumah. Pemilik kandang ayam tengah berbenah usai kebakaran tempo hari. Di Kampung Bukit Duri inilah segelintir orang menambatkan hidupnya bersama keluarga.

Tetapi hari itu ada yang berbeda. Setidaknya kerumunan anak-anak yang bernyanyi di atas panggung tegaknya bambu-bambu berbalut kain panjang, dan sebuah gapura bertuliskan ‘Pasar Rakyat’ menandakan hajatan kecil-kecilan: entah syukuran atas kehidupan mereka sampai hari ini atau perlawanan atas kabar penggusuran yang sebentar lagi konon akan disosialisasikan.

Mungkin ini yang terakhir

Kenapa [pasar rakyat] ini harus jadi yang terakhir atau lebih tepatnya, mengapa diakhiri?

Bukan hanya karena pasar rakyat atau kegiatan seniman bersama warga pada hari itu. Kampung memang sejatinya adalah karya seni – seni berkota yang diproduksi warga. Oleh Lefebvre, karya ini disebut dengan oeuvre yakni karya yang diwujudkan warga sesuai dengan sejarah, pengetahuan, budaya, dan peradabannya melalui apropriasi ruang dan waktu.

Oeuvre merefleksikan estetika yang tidak sekedar ‘bedak’ untuk wajah kota tetapi keindahan yang diproduksi secara kolektif sesuai dengan sosio-kultural warga sehingga tumbuh kenikmatan ‘meruang’. Demikian sehingga karya ini dihidupi warganya, lebih dari sekedar produksi materiil yang berorientasi untuk mengakumulasi kapital.

Bagi warga Bukit Duri, kampung mereka adalah kanvas tempat eksperimentasi dilakukan. Ruang yang tidak dibatasi garis atau standar. Ruang tempat manusia bermanuver secara lumrah, intuitif, spontan, juga kreatif.

Sayangnya, ke-lumrah-an ini kerap diberi label ilegal, kemudian membenarkan diskriminasi terhadap warga. Atau jangan-jangan, label-melabeli ini juga urusan lumrah manusia?

Ouvre sebagai “konstruksi yang lain”

Bukan hanya untuk entitasnya sendiri, kreativitas warga kampung mewarnai kehidupan kota dan berkontribusi terhadap bergeraknya sendi-sendi kegiatan perkotaan. Oeuvre menjadi bentuk yang unik, menjadikan kota heterogen, tidak hanya dihegemoni satu kontruksi diskursus saja.

Kampung kemudian menjadi sebentuk perayaan atas keragaman sekaligus perlawanan atas imajinasi berkota yang itu-itu saja; yang bergedung tinggi, yang berteknologi maju, yang modern… yang kumuh minggir.

Pasar Rakyat ternyata bukan sekedar pameran produk kesenian warga atau ramai anak-anak kampung bernyanyi. Pasar Rakyat mengantar saya ke bentuk kreativitas warga yang sesungguhnya, bukan sekedar oeuvre dalam definisi yang sempit yakni hidup berkampung.

Hanya pertanyaan besarnya adalah bagaimana poster-poster rontek di Pasar Rakyat bisa menjadi lebih dari sekedar satirisme dan mendobrak konstelasi politik perkotaan?

Meski demikian, agaknya romantisme ini tidak baik dibiarkan berlarut-larut. Saya ingat seorang guru mengatakan, “Kemiskinan buat kita adalah tema, tapi buat mereka itu adalah kehidupan sehari-hari.”

Romantisme tadi ternyata hanya khayalan. Yang saya ilustrasikan sedang memproduksi ruang secara kreatif sebenarnya sedang bertaruh hidup dan mati ketika banjir bandang datang, ketika kandang ayam terbakar, atau ketika tidak bisa bayar uang pendidikan anak di sekolah swasta.

Di tengah realita tadi, entah kenapa ibu dan bapak yang saya ajak jagongan hari itu bercerita, “Ah enak di sini, Neng, Ibu nggak pengen pindah-pindah.”

Peningkatan produktivitas ekonomi warga, perbaikan infrastruktur skala kota, peningkatan kesehatan warga serta menumbuhkan kembali semangat berkomunitas di tengah individualisme – atau lebih penting lagi keadilan dalam berpikir, mutlak dibutuhkan.

Seperti yang Pram pernah katakan, “Seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

Tinggalkan dululah urusan label-melabeli itu. Bersama-sama mendukung warga untuk memiliki kehidupan yang baik itu lebih penting. Tapi untuk menggusur? Saya pikir kok tidak.

Beri tanggapan